Artikel Detail

Waspada Preeklamsia Saat Hamil

  • Admin

Kehamilan adalah momen ajaib yang dinantikan, tetapi terkadang datang dengan tantangan medis tertentu yang perlu mendapat perhatian ekstra. Salah satu kondisi kehamilan yang patut diwaspadai oleh setiap calon ibu adalah preeklamsia.

Preeklamsia, yang dulu dikenal dengan sebutan toksemia, terjadi ketika seorang ibu hamil mengalami tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urin, serta pembengkakan pada area kaki dan tangan. Kondisi ini bisa berkisar dari tingkat yang ringan hingga sangat parah. Biasanya, preeklamsia muncul di akhir masa kehamilan, meskipun bisa juga datang lebih awal atau bahkan tepat setelah proses melahirkan.

Mari kita kenali lebih jauh mengenai gejala, faktor risiko, hingga fakta medis seputar penanganan preeklamsia.

 

Apa Saja Tanda dan Gejala Preeklamsia?

Selain adanya pembengkakan (edema), protein dalam urin, dan tekanan darah tinggi, Bunda harus waspada jika mengalami gejala-gejala berikut:

  • Kenaikan berat badan yang drastis selama 1 atau 2 hari akibat peningkatan besar cairan tubuh.
  • Sakit perut, terutama yang terasa di sisi kanan atas.
  • Sakit kepala yang sangat parah dan tidak kunjung hilang saat minum obat.
  • Buang air kecil menjadi lebih sedikit dari biasanya atau bahkan tidak sama sekali.
  • Merasakan pusing, mual, dan muntah yang parah.
  • Terjadi perubahan penglihatan, seperti melihat lampu berkedip, munculnya floater, atau pandangan menjadi kabur.
  • Adanya perubahan refleks pada tubuh.

Perlu dicatat bahwa beberapa wanita dengan preeklamsia tidak memiliki gejala apa pun. Oleh karena itu, sangat penting untuk rajin menemui dokter guna melakukan pemeriksaan tekanan darah dan tes urine secara teratur.

Kapan gejala ini biasa muncul? Gejala preeklamsia sering kali muncul setelah usia kehamilan mencapai 34 minggu. Kondisi ini bisa terjadi sejak 20 minggu setelah kehamilan, namun itu sangat jarang terjadi. Dalam beberapa kasus, gejala baru berkembang dalam waktu 48 jam setelah melahirkan dan dapat bertahan hingga 12 minggu setelah bayi lahir.

 

Siapa yang Berisiko Mengalami Preeklamsia?

Banyak ahli berpendapat bahwa kondisi ini dipicu oleh plasenta wanita yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, serta aliran darah ke rahim yang kurang baik. Beberapa hal yang dapat meningkatkan peluang Bunda terkena preeklamsia meliputi:

  • Remaja atau wanita yang berusia di atas 40 tahun.
  • Hamil untuk pertama kalinya.
  • Memiliki jarak kehamilan kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun dari anak sebelumnya.
  • Kehamilan dengan pasangan baru yang bukan ayah dari anak-anak sebelumnya.
  • Memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil atau riwayat preeklamsia di masa lalu.
  • Memiliki ibu atau saudara perempuan yang pernah menderita preeklamsia.
  • Memiliki riwayat obesitas, diabetes, penyakit ginjal, lupus, atau rheumatoid arthritis.
  • Kehamilan bayi kembar (lebih dari satu) atau kehamilan dari program fertilisasi in-vitro (bayi tabung).

 

Bahaya Preeklamsia dan Sindrom HELLP

Preeklamsia tidak boleh dibiarkan. Jika memburuk, kondisi ini dapat menyebabkan eklamsia, yakni suatu kondisi serius saat wanita mengalami kejang yang dapat memicu risiko kesehatan fatal bagi ibu dan bayi. Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan cukup darah, yang memicu bayi lahir sangat kecil atau mengalami gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini juga menjadi penyebab umum kelahiran prematur yang rentan terhadap komplikasi seperti ketidakmampuan belajar, epilepsi, cerebral palsy, hingga masalah pendengaran dan penglihatan.

Kondisi darurat medis lainnya adalah Sindrom HELLP, yakni komplikasi yang terjadi ketika preeklamsia merusak hati dan sel darah. Sindrom ini ditandai dengan hemolisis (rusaknya sel darah merah yang membawa oksigen), peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang sangat rendah sehingga darah tidak menggumpal sebagaimana mestinya. Jika Anda mengalami penglihatan kabur, nyeri dada, kelelahan, bengkak di wajah atau tangan, hingga pendarahan dari gusi atau hidung, Anda wajib segera pergi ke ruang gawat darurat.

 

Penanganan dan Pengobatan

Satu-satunya obat yang secara pasti dapat mengatasi preeklamsia dan eklamsia adalah dengan melahirkan.

  • Jika kandungan sudah cukup bulan (37 minggu atau lebih): Dokter mungkin ingin menginduksi persalinan atau melakukan operasi caesar agar preeklamsia tidak semakin parah.
  • Jika bayi belum cukup bulan: Dokter mungkin dapat mengobati preeklamsia ringan sampai bayi cukup berkembang untuk dilahirkan dengan aman.
  • Preeklamsia ringan: Dokter mungkin akan meresepkan istirahat di tempat tidur, pemantauan jantung janin dan ultrasound secara sering, pemberian obat untuk menurunkan tekanan darah, serta tes darah dan urine berkala.
  • Perawatan di Rumah Sakit: Anda mungkin akan mendapatkan suntikan magnesium untuk mencegah kejang, obat penurun tekanan darah seperti hydralazine, dan suntikan steroid untuk membantu paru-paru bayi berkembang lebih cepat.

 

Mitos dan Fakta Istirahat Total (Bed Rest)

Beberapa dokter sering kali menyarankan istirahat di tempat tidur (bed rest) untuk menangani preeklamsia dan komplikasi lainnya dengan harapan dapat menurunkan risiko kelahiran prematur. Namun, penelitian terbaru belum menemukan bukti kuat bahwa bed rest benar-benar membantu.

Sebaliknya, penelitian menemukan bahwa istirahat di tempat tidur menimbulkan risiko nyata, seperti penggumpalan darah, depresi dan kecemasan, stres keluarga, kekhawatiran finansial, pelemahan tulang dan otot, hingga pemulihan yang lebih lambat setelah melahirkan. Faktanya, wanita hamil dengan komplikasi terbukti lebih baik melanjutkan rutinitas normalnya, karena aktivitas fisik selama kehamilan dapat menurunkan risiko masalah seperti preeklamsia.

Jika dokter Anda menetapkan bed rest, mintalah alasan yang jelas dan tanyakan batasan aktivitasnya secara rinci. Selama menjalani istirahat di tempat tidur, usahakan melakukan senam ringan yang direkomendasikan dokter untuk mencegah penggumpalan darah kaki, menjaga diet seimbang kaya serat dan air, serta membangun sistem dukungan dengan teman dan keluarga.

 

🌸 Jalani Kehamilan yang Sehat, Nyaman, dan Bahagia!

Setiap kehamilan adalah perjalanan yang unik dan berharga. Mengelola risiko tekanan darah tinggi atau keluhan medis lainnya bukan untuk membuat Bunda cemas, melainkan untuk memastikan Anda dan si Kecil tetap aman, terpantau, dan siap menyambut persalinan yang sehat.

💬 Ingin Memastikan Tekanan Darah dan Kesehatan Kandungan Bunda Berada di Jalur yang Tepat?

Jangan ragu untuk memeriksakan kondisi kehamilan Anda secara rutin. Tim medis kami siap memberikan pemantauan tekanan darah, cek urin, panduan nutrisi, serta konsultasi kesehatan menyeluruh agar masa kehamilan Bunda berjalan lancar dan bebas komplikasi. Hubungi layanan pelanggan kami hari ini untuk menjadwalkan konsultasi prenatal Anda!

📱 Hubungi Kami Sekarang:

👉 WhatsApp: 081294947422

👉 Instagram: @lombokduadua

👨‍⚕️ Catatan Medis

Artikel ini telah disusun dan disesuaikan secara medis oleh dr. Santoso Kusumowidagdo, Sp.Og.